Tampilkan postingan dengan label komunikasi dengan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi dengan anak. Tampilkan semua postingan
KOMPAS.com - Orangtua tak dianjurkan untuk secara drastis meninggalkan si batita begitu saja di daycare. Karena akan menyebabkan trauma dan membuatnya merasa tak aman. Simak caranya:

1. Berikan pengertian tempat yang akan dikunjungi.
Jelaskan pada batita mengenai Tempat Penitipan Anak (TPA) atau daycare. Jelaskan mengenai teman-teman yang akan ditemui, permainan yang tersedia. Ingat, batita paling tertarik dengan mainan. Pembicaraan mengenai permainan selalu menarik perhatiannya.
KOMPAS.com - Mencari inspirasi untuk bermain dengan sang buah hati? Berikut beberapa permainan yang pas bagi anak-anak 1-3 tahun, selain fun juga dapat memberi manfaat untuk koordinasi mata dan tangan si kecil. Jadi Ayah dan Ibu tinggal menyediakan waktu dan nikmati serunya permainan ini dengan  sang buah hati!.
 
  • Bermain Bola 
  • Bermain Pasel
  • Mencoret-coret
  • Menyusun Balok/Kardus
  • Bermain Play Dough (mainan lilin)
  • Bermain Boneka
  • Bermain Alat Musik
Jika Anda meneriaki anak Anda, lalu menyesal setelahnya, ini saran buat Anda.

Saya, suami dan dua anak kami sedang menikmati liburan santai di Hawaii. Kami sedang berkendara di mobil melalui jalan berliku (dan berbahaya) dan menuju Hana. Saat kami sedang melihat betapa indahnya tebing dan pantai, peristiwa itu tiba-tiba terjadi; tanpa alasan jelas, anak laki-laki kami yang berusia 5 tahun melempar botol air ke arah suami.

Botol itu mengenai kaca dan membuat suara keras. Hanya keajaiban yang membuat kami tidak menabrak sesuatu — meski kami sempat kehilangan kendali. Saya dan suami sontak memarahi, berteriak dan mengancam.

"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu kalau itu amat berbahaya? Kita sedang menikmati liburan, dan kamu melempar botol air tanpa alasan?" Lagi dan lagi kami memarahinya — melebihi apa yang sepantasnya diterima anak TK.
Sebagai orang tua mungkin kita sering marah-marah, sering dibuatnya kesal karena anak2 rewel, bikin rumah berantakan, berkelahi dengan adik/kakak. 

Kita mungkin juga sering kehilangan kesabaran karena anak2 makannya lelet dan air tumpah kemana2. Atau kita juga mungkin jadi naik pitam karena anak2 disuruh mandi ngak mau, disuruh belajar ogah, disuruh beresin mainan malah kabur. Tidak sekali mereka membuat kepala kita pusing karena berbagai macam ulah. 

Kita mungkin juga sering kecapeean karena baru pulang kerja mereka ngajak main, minta bikinin ini itu..... 

Tapi parents, semua itu tidak akan lama, karena anak2 tak selamanya kecil. Mereka tak selamnya menangis, mereka tak selamnya bermain, mereka tak selamanya membutuhkan kita. 

Suatu saat mereka akan melepaskan tangan kita saat dia kita genggam, menghapus pipinya saat ia kita cium, menghindar saat dia kita peluk. Suatu saat mereka akan mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Mungkin suatu saat teman lebih penting bagi mereka dan saat itupun kita hanya bisa merindukan. Nanti kita akan merindukan masa2 sulit dulu. Rindu ingin ngelonin mereka, rindu ingin memeluknya, rindu mendengar celotehanya. Biarlah hari ini kita lelah, karena kelelahan bersama kelucuan mereka itu lebih baik dari pada tak ada celotehan, tangisan, teriakan sama sekali di rumah kita..... 

Bersyukur dan bersabar adalah kuncinya. Kelak Dia Sang Pencipta akan menambahkan nikmat-Nya dan memudahkan segala urusan kita...

Thanks for sharing (Rifsia Ajani)
Anak juga manusia #lihatlahaku#

1. Hey ayah/ibu jgn risau apa yg belum bisa kulakukan, lihatlah apa yg sudah bisa kulakukan, lihatlah lbh byk kelebihanku

2. Hey ayah/ibu aku memang belum bisa berhitung, tapi lihatlah aku bisa beryanyi & selalu tersenyum ceria

3. Hey ayah/ibu, jgn keluhkan aku tdk bisa diam, lihatlah energiku ini, bknkah klo aku jd pemimpin aku butuh energi sebesar ini

4. H
ey ayah/ibu jgn kau bandingkan aku dgn anak lain, lihatlah aku tdk pernah membandingkanmu dgn ortu lain, aku hanya satu

5. Ayah/ibu, jgn bosan dgn pertanyaan2ku, lihatlah besarnya rasa ingin tauku, aku belajar byk dari rasa ingin tau

6. Ayah/ibu jgn bentak2 aku, lihatlah aku punya perasaan, seperti engkau jg memilikinya, aku sdg belajar memperlakukanmu kelak
KOMPAS.com - Banyak faktor penyebab sulit makan pada si kecil. Bukan hanya karena penyakit atau medis, tetapi juga lantaran masalah psikis. Kenali tiga masalah psikis utama yang menyebabkan si kecil sulit makan ini.

1. Cemas. Paling sering dialami batita. Contoh, cemas berpisah dari orangtua karena berpikir akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa orangtuanya; cemas berada di lingkungan baru, semisal ketika mulai bersekolah, dan lainnya. Kecemasan yang timbul seringkali disertai gejala fisiologis maupun perilaku seperti gelisah, berkeringat dingin, berdebar-debar, sulit konsentrasi, susah tidur, dan sebagainya. Kondisi ini berpengaruh pada pola makan anak, termasuk membuat anak menjadi susah makan.
KOMPAS.com - Setiap orangtua perlu menyadari seberapa dekat dirinya dengan anak-anaknya. Artinya, orangtua perlu berupaya untuk merespons kebutuhan emosional anak, sehingga anak pada akhirnya merasa dimengerti dan dihargai. Setiap anak memiliki kebutuhan akan afeksi dan perhatian yang berbeda, tergantung kepribadian dan temperamennya. Karenanya, cara setiap orangtua dalam mendekatkan diri kepada anak bisa berbeda, antara keluarga satu dengan keluarga lainnya.

Inilah tantangan yang dihadapi orangtua modern. Pasalnya, banyak orangtua bekerja yang disibukkan dan dibuat stres dengan tuntutan pekerjaan dan karier. Belum lagi kekhawatiran orangtua mengenai kondisi keuangan yang memberikan tekanan tersendiri bagi keluarga. Bagaimanapun kondisinya, adalah tugas orangtua untuk tetap membangun kedekatan dengan anak-anaknya. menciptakan hubungan emosi positif yang bermanfaat dan berdampak besar bagi anak.

Berikut lima prinsip sederhana yang perlu diaplikasikan orangtua agar memiliki hubungan akrab dengan anak:
wolipop.com - Ada banyak manfaat yang bisa didapat dengan membacakan cerita untuk anak. Tidak ada salahnya juga aktivitas membaca itu Anda lakukan sejak dia masih bayi.

"Tidak pernah ada kata terlalu cepat untuk membacakan anak sebuah buku," jelas Ahli Pendidikan Anak dari Mississippi State University Nancy Verhoek-Miller, seperti dilansir dari SixWise.

Menguatkan pernyataan Nancy, para ahli pun merokomendasikan pada orangtua untuk mulai membacakan buku saat anak masih berada dalam kandungan. Saat membacakan buku itu, lakukan dengan suara yang cukup keras untuk bisa didengar anak.

Seorang jurnalis dan juga pakar pendidikan Jim Trelease lah yang pertama kali menyarankan untuk membacakan anak buku cerita dengan keras itu. Pendapatnya itu ia kemukakan dalam bukunya 'The Read Aloud Handbook' yang dipublikasikan pertama kali pada 1979.
Pondokibu.com - Betapa seringnya kita sebagai orang tua merasakan begitu susahnya untuk menahan diri untuk tidak memukul anak ketika dia melakukan suatu yang menyusahkan kita. Padahal jika kita berpikir ulang kita akan dapati bahwa pukulan itu tidaklah akan memberikan suatu manfaat yang besar dibandingkan dengan penyesalan yang akan kita tunai setelah itu. Maka sebagai orang tua kita harus mengerti bagaimana cara agar kita bisa mengendalikan diri kita untuk tidak memukul mereka ketika berbuat kesalahan.


Berikut ini beberapa tips agar kita bisa menahan diri untuk tidak memukul anak.
KOMPAS.com - Waktu yang tepat untuk mengajari anak mandiri adalah ketika usia 2-3 tahun. Inilah waktunya si anak senang melakukan berbagai hal sendiri, kata Alzena Masykouri, MPsi dari KANCIL, Jakarta. Dengan melatih kebutuhan anak untuk mandiri sejak dini, dan membantu anak untuk menunjukkan kemampuannya, bahwa ia mampu makan sendiri, pakai baju sendiri, maka ketika anak memasuki usia prasekolah, ia makin terlatih mandiri.

Bila di usia prasekolah (3-5 tahun), anak masih kurang mandiri, biasanya disebabkan tiga hal berikut:


KOMPAS.com - Punya anak merupakan tantangan tersendiri bagi para orangtua. Apalagi, jika anak Anda sudah sekolah. Tantangan bertambah satu: Membangunkan mereka di pagi hari untuk berangkat ke sekolah. Kalau setiap hari Anda harus marah-marah kepada mereka, tentunya akan menguras emosi, ya. "Bila setiap pagi harus dimulai dengan emosi tinggi, bisa jadi Anda akan kehilangan energi untuk menjalani sisa hari," kata Helene Emsellem, penulis buku Snooze… or Lose! 10 "No-War" Ways to Improve Your Teen's Sleep Habits.

Sebelum Anda bertindak lebih jauh, Emsellem, yang juga direktur medis Center for Sleep & Wake Disorders di Chevy Chase, mengajak Anda terlebih dulu memahami mengapa anak-anak sulit bangun pagi. Menurutnya, anak-anak, terutama remaja, butuh tidur sekitar 9 jam sehari dan secara biologis baru akan tertidur pada sekitar pukul 23.00. Namun, Anda sendiri tahu bahwa jam sekolah dimulai jauh sebelum waktu istirahat mereka selesai. Itu sebabnya, sulit untuk meminta mereka segera membuka mata, kemudian mandi dan bersiap ke sekolah.
KOMPAS.com - Sebagai orang tua, sudah sepatutnya jika Anda selalu menginspirasi anak dengan berbagai kalimat pembangkit semangat. Namun, situasi hati yang sedang tak menentu kadang membuat kalimat yang keluar dari mulut kita justru membuatnya patah semangat.
"Berkomunikasi dengan anak-anak dengan efektif bisa sangat sulit, terkadang kata yang kita sampaikan artinya bisa berbeda ketika sampai di telinga mereka. Karena, anak-anak tidak bisa diharapkan untuk mampu mencerna kata-kata dan konteks kalimat dengan cara yang sama dengan orang dewasa," ungkap Vicki Panaccione, PhD, psikolog dan pendiri Better Parenting Institute di Melbourne.
Jika Anda ingin anak-anak bisa tumbuh menjadi yang terbaik, usahakan mengganti kata-kata yang Anda sampaikan dengan kata-kata yang membantu membangun karakter anak.
KOMPAS.com - Anak yang gampang menangis cenderung mengungkapkan keinginan dengan disertai tangisan. Secara umum tangisan masih menjadi salah satu bentuk komunikasi, terutama bayi di bawah tiga tahun atau batita, karena terbatasnya kemampuan verbal. Hal ini perlahan-lahan harus dihilangkan.

Anak tidak masuk kategori cengeng kalau kerewelan itu hanya ditunjukkan pada kondisi tertentu saja. Seperti sedang sakit, kelelahan, keatakutan, bertemu dengan orang baru atau ditinggal orangtua.

Ike R Sugiyanto, Psi dari Potentia Centre menjelaskan banyak faktor yang menyebabkan anak gampang menangis. Di antaranya:

KOMPAS.com - Kepercayaan diri dalam diri seseorang dipengaruhi bagaimana pengasuhan orangtuanya. Kepercayaan diri yang dilatih sejak masa tumbuh kembang anak, akan melahirkan pribadi yang yakin atas dirinya, kompeten, dan menghargai dirinya secara sehat dan positif.

Agar anak percaya diri, menghargai diri, orangtua perlu mengaplikasikan pola asuh ini:

KOMPAS.com - Cara orangtua memperlakukan anak tertua dengan anak yang lebih muda jelas berbeda. Si kakak dianggap sudah lebih besar dan mengerti perintah orangtua. Sedangkan si kecil, masih perlu didampingi. Cara penanganan berbeda ini wajar saja terjadi karena perbedaan usia. Namun anak-anak takkan sepenuhnya memahami perbedaan ini jika tak dijelaskan oleh orangtuanya. Minimnya komunikasi membuat anak, terutama si kakak, merasa tak lagi diperhatikan oleh ayah atau ibunya.

Psikolog Anna Surti Ariani, Psi, menyarankan orangtua perlu terus belajar teknik komunikasi. Kebiasaan ngobrol perlu dibangun untuk mecegah salah penafsiran atas perlakuan orangtua terhadap anak. "Orangtua harus belajar banyak trik untuk menambal minimnya komunikasi di rumah," jelasnya seusai peluncuran susu cair tepat usia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Photobucket

Oriflame Make Ur Life Better


KONTAK UMMY

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

PENGUNJUNG

Friend

Photobucket

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

searching

Google
Google Web

Popular Posts

UMMY BIZZ

Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket
Photobucket

Guest Box

FACEBOOK FANS BOX

Text Widget