
KOMPAS.com - Melihat seorang anak menjambak rambut adiknya sehingga hampir jatuh, atau membuang makanan di lantai karena tak suka dengan menunya, memang membuat kita gemas. Repotnya, anak itu bukan anak kita, melainkan anak seorang teman atau saudara yang dititipkan pada kita. Bisa juga Anda kebetulan melihat perilaku buruk seorang anak yang lepas dari perhatian orangtuanya.
Bila hal ini terjadi pada kita, apa yang bisa kita perbuat? Bolehkah kita menegur anak dan mendisiplinkannya? Sampai sejauh mana kita boleh mendisiplinkan anak, apalagi bila tindakannya tidak dapat lagi diterima?
Hal ini memang menjadi kontroversi. Sebagai orang dewasa, Anda mungkin tak habis pikir mengapa ada orangtua yang membiarkan anaknya bersikap buruk. Namun, di situlah letak masalahnya. Hal ini lebih kompleks daripada sekadar melihat kesalahan anak. Di dalamnya ada faktor-faktor yang melibatkan perspektif yang berbeda dari para orangtua. Dan, faktor-faktor tersebut perlu Anda pahami sebelum mencoba ikut mendisiplinkan anak:







